RSS

Senin, 23 Mei 2011

"Tenang Jak, Tak Kan Sesat"

Ini adalah sebuah cerita memalukan ketika saya berlibur ke tanah kelahiran orangtua saya pada Februari lalu. Di manakah itu? Jawabannya adalah sebuah desa yang benar-benar terpencil. Jatinangor bila dibandingkan desa ini masih jauh lebih 'kota'. Haahahahaa. Nama tempat tersebut adalah Padang Tikar. Baru denger kaaaaannn???? Saya yakin hanya sedikit sekali orang yang tahu Padang Tikar.

Padang Tikar adalah nama sebuah pulau kecil di dekat Kalimantan Barat. Kalau dari Pontinak, harus ke pelabuhan Rasau dulu, baru menyeberang ke Padang Tikar. Kira-kira memakan waktu sekitar 2 jam dari Rasau. Saya masih inget banget, kalau dulu orangtua saya mengajak saya pulang ke kampung mereka, saya pasti nolak. Ngeri sama nyamuknya, belum lagi listriknya itu loooh! Listrik merupakan hal yang sangat berharga di Padang Tikar. Penduduk dapat menikmati listrik mulai dari pk 17.00 s/d pk 06.00.

Ini namanya sepit


Di sana mobil adalah sarana transportasi yang sangat jarang dan terbilang sangat mewah. Jalannya aja sempit banget. Ga ada mall... Sekolahan cuman satu katanya. Jadi generasi ke generasi sekolahnya sama semua. Hahahaha. Tentu saja tak ada universitas di sana. Alfamart? Tidak ada! Internet???? Ga usah ditanya deh... Mungkin karena sekarang jiwa berpetualang saya sudah mulai tumbuh jadi saya sangat antusias untuk ke pedalaman ini.

Saya pulang hanya dengan mama saya. Ada 3 jenis transportasi air yang bisa digunakan. Saya tidak tahu pasti namanya, tetapi penduduk lokal menyebutnya motor air, sepit, speed boat. Kata mama saya, paling serem itu naik speed boat karena mudah terombang-ambing oleh ombak. Pernah katanya, ada yang terbalik. Kami pun naik sepit.

Di perjalanan, saya terkesima dengan rumah-rumah kayu yang berada di pinggir laut. Menurut saya itu sangat kereeeen. Pemandangan yang tidak biasa kita temukan. Baiklah ini akan saya ceritakan nanti lah ya. Kembali fokus ke cerita memalukan......

Sesampainya di pelabuhan Padang Tikar, saya dan mama saya naik ojek yang berbeda. Mama saya kemudian memberitahukan tujuan kepada kedua tukang ojek. Ojek saya mengikuti ojek mama saya, tepat di belakangnya. Yah, saya santai saja.

Tiba-tiba saja......... topi saya lepas!! Ojek saya pun berhenti. Saya kemudian turun dan mengambil topi saya. Saat saya kembali ke ojek, saya sudah tidak bisa melihat ojek mama saya. Sepertinya sudah tertinggal jauh. Saya kemudian bertanya kepada si tukang ojek apakah ia sudah tahu alamat tujuan. Tukang ojek yang kelihatannya seumuran saya itu bilang ia tahu. Okay, belum saatnya saya panik. Saya masih tenang.

Rumah di pinggir laut. Sukaaaaaa <3


Ojek pun jalan lagi. Makin lama, si tukang ojek makin bingung. Ternyata dia hanya diberitahu nama daerahnya saja, bukan alamat lengkapnya. Kami jalan sampai lumayan jauuuuhhh... Saya mencoba lihat kiri dan kanan, berharap melihat sosok mama saya. Namun, yang saya lihat hanyalah kebun kelapa yang lebat, rumah walet, serta rumah kayu penduduk yang terlihat sepi. Benar-benar sesuatu yang asing bagi saya.

Saya coba menelepon mama saya, tapi ternyata handphone saya tidak mendapat sinyal (XL memang ga bisa diharepin di pedalaman!). Tukang ojek baik hati itu kemudian meminjamkan handphonenya pada saya. Namun, handphone mama saya tak bisa dihubungi. Saya kemudian meminta si tukang ojek ini menghubungi temannya yang membonceng mama saya. Namun ternyata.... temannya tak memiliki handphone! Ahhh, apeeesss!!! Masih ada pilihan, yaitu bertanya pada penduduk sekitar. Okay, belum saatnya panik. Saya masih agak tenang.

Saya kemudian mencari penduduk yang sipit (so pasti kemungkinan kenal sama mama papa saya lebih besar dong, siapa tahu saudara). Pertama-tama, saya bertanya kepada seorang ayi-ayi (sebutan untuk tante-tante paruh baya Chinese). Saya bertanya apakah dia mengenal mama papa saya dengan menggunakan bahasa dialek Teochew (orang Chinese di sana berbahasa dialek Teochew). Ternyata ayi-ayi itu tidak kenal. Dia menanyakan nama nenek saya yang merupakan penduduk situ. Celakanya, saya tidak tahu nama nenek saya.

Ayi baik hati itu kemudian mengajak saya ke rumah tetangganya. Tetangganya itu perempuan yang tampaknya berumur sItalicekitar 40 tahun dan tampak sangat nyentrik. Gayanya itu loh. Kalau saya tak salah ingat, dia full make up, pakai hotpants jeans, atasannya tank top, rambut berwarna kayak singa, antingnya berderet, serta merokok. Bingung juga, di kampung kecil begini ada saja orang seperti itu. Sayangnya, tetangganya tak kenal juga dengan mama papa saya. Tidak heran sih, mama papa saya kan sudah lama merantau ke Jakarta. Kalaupun kenal, mereka pasti lupaa.

Saya dibawa lagi ke sebuah rumah lain. Kali ini isinya pemuda-pemuda. Mereka lagi main kartu gitu (ga ada kerjaan kali ye siang-siang gitu malah main kartu haha hihi). Udah gitu, mereka langsung kaget gitu pas lihat saya. Mereka takut kali lihat saya bawa kamera SLR. Hahahaha dikira saya wartawan kali. Dan... mereka pun tidak tahu.

Saya mulai merasakan tekanan dalam diri saya. Saya mulai stress. Langsung muncul berbagai pikiran negatif di kepala saya. Bagaimana kalau saya hilang? Bagaimana kalau saya tak bisa bertemu mama saya lagi? Bagaimana kalau saya ga bisa pulang ke Jakarta lagi? Di sela-sela pikiran negatif tersebut, ada suara-suara dalam otak saya "Ah, nggak mungkin sih Han. Paling lama lo juga ilang 2 hari kok! Tenang aja, orang-orang pasti akan nyariin lo!"

Pemandangan ketika baru sampai Padang Tikar


Namun, tetap saja, saya takut. Ini tempat yang sangat asing bagi saya! Handphone saya ga bisa berfungsi dengan baik! Saya stressssss.... Tidak lama kemudian, pipi saya terasa hangat. Saya...................... nangissss!!!!! Pemuda-pemuda yang saya temui kaget melihat saya nangis, terlebih lagi si tukang ojek. Dia kayaknya panik banget. "Tenang jak, tak kan sesat," ujarnya dengan logat Melayu yang sangat kental. Saya sebenernya malu sih, nangis depan mereka. Namun, ya sudahlah, saya memang stressssss!

Tukang ojek itu kemudian langsung mencari temannya. Tak berapa lama, ia kembali lagi. Sepertinya ia bertemu dengan temannya dan sudah menanyakan rumah nenek saya. Saya pun diantarnya ke sana. Sesampainya saya di rumah nenek saya, saya melihat sudah banyak banget orang di situ. Orang-orang tersebut adalah saudara-saudara saya. Mata saya masih berair dan saya masih pilek gara-gara nangis. Semua orang menatap saya dan menghibur saya yang tampak tertekan. Mama saya kemudian terlihat dan dia langsung memeluk saya sambil tertawa-tawa. Aduh, kenapa sih semua orang pada lebay.......

Sumpah, ini memalukan! Di kampung sekecil itu, penduduknya senang bergosip. Keesokan harinya, peristiwa memalukan saya ini sudah menyebar ke mana-mana. Yah, mungkin ini lucu bagi mereka. Anak kota bodoh tersesat di kampung. Mereka pasti seneng banget ngomongin kebodohan saya. Huhuhuhu. Bukannya saya negative thinking, tetapi memang begitulah kenyataannya. Saya yakin saya ga akan pulang ke kampung ortu saya dalam waktu dekat. Mungkin saya mau pulang lagi ketika orang-orang sudah mulai lupa dengan kejadian itu atau ketika saya sudah bisa menahan malu.

Ini jadi pelajaran buat saya supaya bisa lebih cerdas lagi dalam menghadapi tekanan. Setiap ada tekanan sebaiknya dipikirkan dulu secara logis dan positive thinking. Pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan positifnya. Tentu perlu proses untuk menjadi orang seperti itu. Dan saya adalah salah satu orang yang sedang dalam proses itu. Pengalaman adalah guru terbaik :))


4 komentar:

Ross Ibrahim mengatakan...

Hi, do you have more pictures of your trip to Padang Tikar?

Santo Tjieuw mengatakan...

Wahhh padang tikar... Kerennnn.....

Ners AmmaR mengatakan...

Itu kampung kami dulu..Sekarang sudah mulai ada perubahan..Internet sudah mulai masuk..dan anak-anak yg sudah lulus SMA banyak melanjutkan studi kekota..
Klo untuk liburan paling tenang dikmpung halamn sendiri..

Yo Lin mengatakan...

kampung halamanku...terakhir meninggalkan desa itu th 1990 di usia 13th dan tidak pernah kembali lagi...pengen banget tau perkembangannya....dulu naek ojek sebut nama papa saya aj...semuanya pasti tau hehehe....

Posting Komentar