RSS

Minggu, 01 Januari 2012

Terapi Tertawa

Beberapa waktu yang lalu gue ikut terapi tertawa di Bandung. Gue pergi bareng 4 orang temen gue. Adapun, yang mengadakan kegiatan semacam ini adalah sebuah komunitas bernama Circle of Laughter. Mereka dapat mengadakan kegiatan ini di mana saja sesuai dengan kebutuhan dan akses yang ada. Nah, kemarin itu, gue ikut saat komunitas ini mengadakannya di Café Reading Light di daerah Ciumbuleuit.

Motivasi mengikuti terapi ini adalah untuk tugas Feature Radio gue. Dan memang selama ini gue penasaran seperti apa itu terapi tertawa. Pertama datang, bertemu dengan ibu-ibu yang biasa ikut terapi tertawa ini. Kita ngobrol cukup lama. Ibu ini terlihat seperti ibu-ibu lain pada umumnya. Tidak ada yang aneh.

Kemudian tibalah saatnya terapi ini dimulai. Ternyata tidak ada cara-cara unik yang digunakan selain kreativitas fasilitator dalam membuat orang tertawa. Di situlah tantangan bagi fasilitator terapi tertawa ini. Oya, sebelumnya, ada pemanasan dengan yoga. Si fasilitator kemudian mulai mengeluarkan strateginya untuk membuat orang tertawa atau paling tidak minimal tersenyum.

Pertama, fasilitator menyuruh kami berkenalan dengan yang lain. kami kemudian dipasang-pasangkan. Namun, perkenalan tidak seperti biasanya. Kami tidak boleh berbicara melainkan hanya boleh tertawa. Aneh kan? Wong nggak ada yang lucu disuru ketawa, sambil berjabat tangan dengan orang asing pula. Ih, gimana caranya gue bisa ketawa????? Untungnya, gue dapet pasangan yang cukup lebay ketawanya. Belum apa-apa, udah ketawa duluan. Ngeriiiii sih awalnya. Aneh gila! Eh, lama kelamaan gue jadi ikut ketawa juga karna melihat keanehannya. Awalnya tertawa kecil dan lama-lama jadi terbahak-bahak. Gue bingung, orang-orang di terapi ini tertawa begitu terbahak. Ketawanya lebaaaaaaaayyyy banget deh! Dan taraaaa, karna melihat mereka tertawa untuk hal yang tak lucu itu, gue pun ikut ketawa. Muuuahahahahah…

Nyatanya, banyak dari kita yang sudah dewasa ini sulit sekali untuk tertawa. Harus ada alasan-alasan jelas yang membuat kita tertawa. Padahal, kalau kita tengok anak kecil, mereka dengan mudah bisa tertawa-tawa. Tanpa alasan yang jelas. Itu pulalah yang dijelaskan oleh Hariyadi (fasilitatot terapi tertawa), bahwa menurut penelitian, anak kecil dapat tertawa sebanyak 300 kali sehari sedangkan orang dewasa hanya sekitar 20 kali sehari. Wah, jauh sekali yah perbedaannya. Di terapi tertawa ini juga dihimbau agar kita bisa tertawa meskipun tidak ada penyebabnya. Jadi kuncinya tertawalah dulu baru merasa bahagia. Bukan sebaliknya, bahagia baru tertawa. Belajar juga untuk menertawai kebodohan diri sendiri. Hmmm, hal yang masih sulit gue praktikkan. Yak, gue rasa, kalau mau awet muda, rahasianya adalah banyak-banyak tertawa! Hahahaha.

3 komentar:

outbound malang mengatakan...

kunjungan gan .,.
Belajarlah untuk bisa menerima sesuatu yang baru.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.

V mengatakan...

Muahahahahhaa

rendy kadirin mengatakan...

terapi ketawa yang bagus. itulah saya dan teman teman bikin video video lucu untuk bisa menertwakan firi sendiri. you tube,,, REVENDYKING salam kenal ya ,, FB saya revendyking . mohon add,smoga bisa lebih saling berbagi.. trims ya,salam happy

Posting Komentar