RSS

Rabu, 26 Oktober 2011

Ah, Kamu Ini... Pura-pura Saja!

Source: siscanatalia.tumblr.com


Dulu waktu saya kecil, saya pengeeeeen banget bisa memberi banyak uang kepada pengemis. Kalau ketemu pengemis, saya selalu minta uang ke orangtua untuk memberikannya kepada mereka. Wah, dulu mah saya berhati malaikat banget... Seiring dengan bertambahnya usia, saya jadi makin apatis (bila bisa disebut demikian). Saya makin nggak yakin dengan apa yang saya lihat. Apa betul, mereka ini pengemis? Jangan-jangan, pura-pura aja kali! Saya beranggapan, pengemis zaman sekarang itu nipu doang. Pura-pura. Palsu!

Belakangan ini, saya menemukan beberapa fakta yang memperkuat asumsi saya. Kira-kira seminggu yang lalu, seperti biasa, kalau nggak kesiangan, saya jalan kaki dari kosan ke kampus tercinta. Nah, di area gerbang Unpad emang banyak banget pengemis. Wuiiih, berjajar deh pokoknya! Tambah lama tambah banyak. Saya jarang banget ngasih uang ke pengemis-pengemis itu. Bukan karena pelit, tetapi karena hal yang saya bilang tadi (bukan alibi yah).

Ketika saya berjalan, saya melihatt di depan saya ada seorang pengemis perempuan yang berpakaian lusuh (ya iya lah yaaa, namanya juga ngemis). Umurnya sekitar 40 tahun (menurut pandangan subjektif saya). Ia sedang menunduk. Saya perhatikan, sedang apa sih dia? Ternyata oh ternyata..... Dia sedang menghitung uang hasil ngemisnya. Saya lihat, itu segepok uang seribuan! Lembaran seribuan itu sudah tertata rapi. Saya lihat, minimal ada Rp100.000. Itu masih siang lho... Coba bayangin, kalau dia ngemis sampai sore, berapa yang bisa ia dapatkan? Kalau ia ngemis seminggu, berapa? Eeeebuseeedd, masih lebih kaya dia daripada saya.

Beberapa hari berikutnya, saya menemukan kejanggalan lagi. Saya baru saja pulang dari kampus. Lagi-lagi melewati gerbang Unpad yang sangat ramai dengan mahasiswa yang lalu lalang. Ada pengemis yang sedang duduk tepat di seberang saya ketika saya melengos keluar dari Unpad. Pengemis ini perempuan, tetapi berbeda dengan pengemis yang sebelumnya saya ceritakan. Ada tukang es potong di dekatnya. Tiba-tiba, tukang es potong itu memberikan selembar Rp50.000 kepada pengemis itu. Entahlah, ada affair apa mereka. Hahaha. Ya, aneh aja. Aneh kan ya?

Bukan hanya pengemis yang banyak di Jatinangor, pengamen pun tak kalah menjamur. Pengamen-pengamen ini rajin banget "bertandang" ke tempat-tempat makan di Jatinangor. Sampai-sampai, saya hapal lho wajah mereka, dari yang emang bisa nyanyi, sampai yang cuman bisa berlagak autis dengan bau lem aibon di bajunya. Suatu hari, saya tak sengaja bertemu seorang pengamen di sebuah toko kelontong. Pengamen ini membeli beberapa batang rokok. Wuidiiih, makin ilfeel lah saya. Udah cape-cape ngamen malah dipake beli rokok. Waduh, tambah apatis aja saya jadinya. Saya ogah juga, kalau udah ngasih duit, ehhh duit emak bapak saya dipake buat beli rokok. Mboookk yaaa, buat beli makan...... Lebih ikhlas saya.

Oya, saya juga punya pengalaman tak mengenakkan dengan pengamen. Waktu itu, saya masih SMA (masih lucu-lucunya gitu lho). Saya dan tante saya sedang makan di Seafood tenda di dekat rumah saya. Lagi asyik-asyik makan dengan tangan, ehh ada pengamen nyamperin. Saya dan tante saya nggak menggubris karena kami sedang makan (sampai lupa daratan). Kira-kira baru dua menit pengamen itu menyanyi, ia malah mengamuk. Ia memukul meja kami, dan berteriak "KALAU NGGAK MAU NGASIH, BILANG DONG!!"

What theeeee.................. Saya sama tante saya cuman bisa bengong sambil tatap-tatapan. Dasar pengamen labil -_______-"""

Jadi, apatislah pada saat yang tepat.


4 komentar:

Alex mengatakan...

:D

Claude C Kenni mengatakan...

Ironisnya, mengemis sudah menjadi sebuah "profesi" saat ini...dan para pengemis dan pengamen lagaknya udah kayak bos aja makin hari...ckckck

Kevin mengatakan...

Meminjam kata2 iklan layanan masyarakat : peduli tidak sama dengan memberi uang.

Kayaknya lebih bagus buat ngasi pancing dan ngajari cara mancing ikan drpd lgs memberi ikannya kan?

Salam,
Kevin
Blog : www.nostalgia-90an.com
Nostalgia Segala Sesuatu Pada Tahun 90an

presto mengatakan...

memberi adalah kepuasan lakukan kapan saja

Posting Komentar