RSS

Minggu, 11 Juli 2010

Culture Fest 2010

Culture Fest adalah sebuah acara yang diselenggarakan oleh Fikom Unpad untuk merayakan ulang tahun Fikom Unpad yang ke-50. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 26 Juni 2010 di Lapangan Parkir Unpad Dipati Ukur. Rasa-rasanya telat banget yah saya baru nge-post sekarang? Sebenarnya, niatnya udah dari kemarin-kemarin sih, tapi baru terwujud sekarang. Hehehe...

Mahasiswa-mahasiswa angkatan 2009 pun turut ambil bagian di acara ini. Lebih tepatnya, dipaksa ambil bagian. Nilai mata kuliah KLB (Komunikasi Lintas Budaya) kami sangat bergantung pada acara ini. Dengan kata lain, kami dipercayakan (atau diharuskan?) mempresentasikan budaya-budaya dari berbagai belahan dunia. Untuk kelas saya, yaitu ILKOM D, mendapatkan budaya Italia, Mesir, dan Jerman. Kelompok saya sendiri mendapat budaya Italia.

Persiapannya aduh duh duuuuh, ribet dan bikin stress tingkat maksimum. Mulai dari anak-anak cowonya yang kurang bisa diandelin *ups*, waktu yang sempit banget, ngurusin proposal yang ribet, sampai tukang dekor yang nyebelin mampus. Banyak banget yang udah dikorbanin, mulai dari waktu, tenaga, dan biaya. Kayaknya kalo dirinci satu-satu di sini nggak bakalan muat, deh! Hehehehee...

Tapii.... Semua itu terbayar dengan suksesnya acara! Nggak sia-sia deh udah ngorbanin banyak hal demi acara ini. Kolaborasi kelas ILKOM D juara 3 kerjasama terbaik loh! Hohoho. Saya juga puas banget lihat stand saya yang rame dengan makanan-makanan, seperti Warung Pasta, Korban Kopi, dan Pisetta. Nggak sia-sia saya dan teman-teman ngurusin proposal buat kerja sama dengan mereka.

Beberapa foto yang saya comot dari albumnya Miss Ai.. Hohoho....



Tarantela dance by Italian Culture
*Di situ ada saya loooh, gilaak kesambet apa saya mau nari?*

Tanzen by Germany Culture
*Ini tarian ribet banget!*

Belly dance by Egypt Culture

Sembur-semburan api



For more information, check this out: http://www.unpad.ac.id/archives/28485



Rabu, 07 Juli 2010

Life Is Never Flat

Sesuai judulnya..., Life Is Never Flat...

Hidup ini banyak gejolak. Terkadang, saat kita happy, kita merasa menjadi orang yang sangat beruntung di dunia. Kita nggak mau semua kesenangan itu cepat berakhir. Tetapi, tetap saja itu semua akan berlalu. Saat sedih pun begitu. Ada kalanya kita merasa diri tak berguna dan kemudian menyalahkan keadaan. Tapi, itu semua pun akan berlalu.

Saya jadi teringat masa-masa ketika saya ditolak oleh 2 universitas negri yang saya incar. Rasanya sedih iya.., pasrah juga iya.. . Jadi gini, perasaan sedih memang ada, tapi saya berusaha menghibur diri saya sendiri dengan alibi "namanya juga univ negri yang berkualitas, pasti susah lah...", apalagi dengan gaya belajar malas-malasan saya ini. Saya kemudian putus asa http://matcuoi.com *sedih nih ceritanya* dan memutuskan buat masuk univ swasta saja. Saya kemudian mendaftar dan ortu sudah membayar uang masuknya. Akan tetapi, papa saya menyuruh saya untuk mencoba SNMPTN, saya sudah maleeeees banget rasanya. Sudah cape dengan penolakan univ-univ negri yang sombong itu! *kesel nih ceritanya*

Tapi, akhirnya, saya pun mencoba dengan gaya ogah-ogahan. Karena sudah ada cadangan, saya santai saja. Menyentuh buku pun saya sudah jual mahal. Hahahaha. Saya merasa percuma banget ikut SNMPTN, saya pesimis! Memilih jurusan pun saya agak ngasal. Hihihi, lucu rasanya kalo inget masa-masa itu. Kemudian, saat hari H, saya menjawabnya pun agak ngasal. Yang tadinya bila menjawab saya sangat hati-hati, dengan memperhitungkan kalo salah dapat nilai minus, saat itu saya banyak sekali menembak dengan sok pintarnya. Saya penuhi semua jawaban saya. Hahahaha. Namanya juga udah ogah-ogahan. Daaan..., nggak nyangka, ternyata saya dapat pilihan kedua, yaitu FIKOM UNPAD. Jujur, rasanya saat melihat hasil SNMPTN di internet, saya happpyyyy banget! http://matcuoi.com Akhirnya, ada univ negri yang mau nerima saya. Hahahahaha...

Waduh, sepertinya, obrolan saya sudah melenceng jauh. Bicara soal SNMPTN, itu bukan topik utama saya. Hehehe. Saya cuman mau menggambarkan kalo hidup itu nggak pernah flat-flat saja... Selalu ada kejutan di dalamnya. Itu dia contohnya, ada kalanya saya sedih karena ditolak, tapi kemudian saya happy karena diterima. Dan, sekarang, saat hidup saya datar-datar saja, tiba-tiba muncul sebuah kejutan yang agak "menyetrum". Saat hidup saya datar-datar saja... Saat hidup saya flat banget, tiba-tiba... Tiba-tiba... Hmmm.... Tiba-tiba....

TIBA-TIBA MAMA PAPA SAYA BILANG MAU ADOPSI ANAK! http://matcuoi.com Well, ini sangat mengejutkan bagi saya. Dengan frontal, saya bilang ENGGA MAU! Saya nggak habis pikir, kenapa ortu saya bisa kepikiran mau adopsi anak lagi. Secara, anaknya sendiri sudah 4. Saya anak yang paling besar, sedangkan yang paling kecil masih 6 SD. Apakah kurang ramai???!!! Kurang berisik???!!! Fuh, saya sendiri sudah nggak mau punya adik lagi. It's ENOUGH! Bukannya saya nggak seneng anak kecil. Saya seneng banget kok ama anak kecil (yang lucu, imut-imut, dan nggak nyebelin pastinya), tapi untuk jadi adik saya? Adik, lagi??? Saya NGGAK MAU!

Apalagi pas denger alasan ortu saya pas saya tanya kenapa mau adopsi anak lagi sedangkan anaknya udah banyak gini. Eh, saya malah dijawab gini, "Ya biar nanti papa mama ada yang ngurus dong, nanti kalian uda gede udah pada sibuk sendiri, mama papa nggak ada yang urus." Jawaban yang sangat menohok sekali. WHAT?? Jadi, mereka nggak percaya gitu sama saya kalo nanti saya bakal ngurus mereka? Ya, mungkin nanti saya akan sibuk dengan pekerjaan saya atau hal-hal lainnya, Mungkin. Tapi kan nggak berarti saya akan menelantarkan ortu saya, dong? Lagipula, ada 3 adik saya lagi. Hmmppff, rasanya terlalu jauh untuk membahas ini. Kita nggak tau kan apa yang akan terjadi di masa depan? Saya juga nggak menjamin saya bakal jadi anak yang berbakti. Who knows?

Honestly, saya itu takut sebenarnya. Saya takut ortu saya nanti lebih sayang sama si anak baru. Saya takut semuanya menjadi berubah dengan adanya dia. Saya takut saya nggak bisa jadi kakak yang baik buat dia. Sounds selfish, huh? Whatever, i'm just being honest.

Saya setuju banget ortu mau bantu anak ini soalnya dari keluarga yang nggak mampu. Tapi, saya kurang suka dengan ide adopsi anak lalu tinggal bersama. Saya lebih setuju kalo anak itu cukup dibiayai saja. Misalnya, biaya pendidikan. Setuju banget malah!

Saya masih belum tau ortu saya akhirnya jadi atau tidak mengadopsi anak itu. Mungkin saya ini egois. Mungkin saya jahat. Tetapi, ini yang saya rasakan. Mungkin saya... hanya belum dewasa... http://matcuoi.com

Minggu, 30 Mei 2010

Pantaskah??


Dedicated for all of my bestfriends and myself :))


Terkadang aku kecewa pada mereka

Aku sedih mengapa mereka tak pernah menanyakan kabarku

Seakan tak peduli padaku

Mengacuhkanku bagai tak ada

Seakan persahabatan yang lalu hanyalah semu belaka


Aku marah

Aku sedih

Aku.... kecewa berat


Sahabat macam apa mereka?

Menanyakan kabar saja tak mau

Mengapa harus aku

Mengapa harus aku yang memulai

Tak adakah inisiatif mereka?

Tak adakah rasa rindu seperti aku merindukan mereka?


Namun, kemudian aku bertanya

Pada diriku sendiri

Bagaimana dengan diriku?

Pantaskah aku disebut sahabat?


Seringkali ku tak acuh

Tak mau peduli masalah mereka

Bahkan terkadang keberadaanku tak membantu

Aku asyik dengan duniaku sendiri

Tenggelam dalam imajinasi yang memabukkan


Sekarang ku sadar

Akan betapa kurangnya diriku

Sebagai sahabat yang baik

Malunya diriku

Yang selalu memprotes

Tanpa bercermin dulu


Oh, sahabat

Terima kasih atas segalanya

Maafkan segala keegoisanku

Ku janji kan berubah

Agar lebih berarti

Menjadi sahabat yang baik

Untuk kalian


Bagiku kalian akan selalu menjadi sahabatku

Karena tidak akan pernah

Tidak akan pernah ada

Istilah mantan sahabat

Dalam kamusku...


I ♥ You My Besties



Good Bye Owen...



Tiada lagi yang menyambutku ketika pulang...

Tiada lagi yang kegirangan melihat kehadiranku....
Tiada lagi yang antusias menunggu belaianku...


Maafkan aku...
Bila selama ini aku sering mengacuhkanmu..


Maafkan aku...
Bila selama ini aku tak pernah merawatmu...


Maafkan aku...
Bila selama ini aku mencarimu hanya bila kubutuh saja..


Sungguh ku tak pantas mendapatkan setiamu
Tapi ku tau kau pasti tetap menyayangiku
Semoga kau terlahir di alam yang lebih baik


Good bye Owen...
♥ ♥ ♥

Dedicated for Owen. Maybe it sounds so silly, but it's really from my deepest heart :'(

Minggu, 09 Mei 2010

AIMLESS!!


Jika ditanya "What is your biggest problem?", apa jawabanmu? Mungkin ada yang menjawab kelebihan berat badan, hubungan yang tidak harmonis dengan orang yang disayangi, nilai yang tidak memadai dalam bidang akademis, dimusuhi banyak orang, dan masih banyak lagi. Bila saya yang ditanya, saya akan menjawab, "Being aimless" alias nggak punya tujuan hidup. Ya, itulah masalah terberat saya. Tujuan di sini dapat berarti rencana saya untuk masa depan atau cita-cita saya. Sungguh, bila Anda menanyakan ini kepada saya, saya akan kebingungan setengah mati. Saya benar-benar blank. Tidak seperti dulu, ketika saya masih sangat mungil, saya akan langsung menjawab ingin menjadi dokter begitu ada orang yang menanyakan cita-cita saya. Namun, seiring berjalannya waktu, keinginan menjadi dokter telah kandas karena pergolakan batin saya. Dan kini, saya benar-benar tidak tahu cita-cita saya.


Terkadang saya sangat iri bila melihat teman-teman saya yang sudah memiliki cita-citanya. Senior-senior saya, yang menempuh pendidikan dokter, sudah sangat jelas mempunyai rencana masa depan menjadi dokter. Contoh lain, sebut saja sahabat-sahabat saya. Khara Gracia, sudah mantap ingin menjadi jurnalis. Agnes Oryza sudah bulat ingin menjadi praktisi public relations ternama (sampai saat ini dia sangat ingin menjadi public relations Body Shop). Adela Delima, sangat yakin ingin menjadi fashion designer. Tujuan mereka sudah jelas, tinggal proses dan hasil akhir yang harus mereka fokuskan. Sedangkan saya? Tujuan pun tak ada. Memang, sempat terlintas keinginan saya untuk menjadi jurnalis, namun saya belum yakin, apakah ini benar apa yang saya mau? Sekali lagi, AIMLESS.

Saya baru saja mengikuti sebuah training dari seorang magister Psikologi, Cici Pamela. Sebuah training yang berusaha memotivasi agar kita dapat lebih mengenal diri sendiri dan memahami orang lain. Seusai training ini, saya menjadi tahu, bahwa masalah terbesar bagi saya adalah menjadi seseorang yang sangat sangat AIMLESS. Di sesi kedua training ini, saya dan teman-teman disuruh untuk menggambar sesuatu yang mewakili diri. Di bawah ini adalah gambar saya ketika training, yang telah saya buat ulang dengan menggunakan software komputer:


gambar 1


gambar 2

Pertama-tama, jangan protes kalau gambar saya jelek! Saya juga sadar, makanya saya menamai semua gambar yang telah saya ciptakan. Hahaha. Nah, saya akan menjelaskan arti dari masing-masing gambar.

Gambar pertama. Sebongkah kayu hidup dalam gambar tersebut mencerminkan diri saya. Kayu yg terombang-ambing oleh ombak mencerminkan diri saya sekarang yang masih sangat labil dan mudah terbawa/terpengaruh. Sedangkan berbagai macam makhluk hidup laut seperti hiu, ikan, kepiting, udang, dan plankton adalah orang-orang yang saya temui. Berbagai macam orang tersebut ada yang menyenangkan buat saya, ada juga yang menyebalkan. Namun, berbagai macam orang tersebut turut membentuk dan memperkaya diri saya. Cuaca cerah dan cuaca hujan melambangkan suasana hati saya yang terkadang in the good mood dan bad mood. Mood saya ini sering sekali berubah-ubah dengan drastis. Mood di sini maksudnya adalah mood dalam mencapai sesuatu yang saya inginkan. Kadang saya bersemangat, kadang saya redup.

Gambar kedua adalah harapan saya di masa mendatang. Saya berharap sebongkah kayu tersebut dapat menemukan pantainya untuk dapat tumbuh dan hidup di sana. Dalam kehidupan nyata, saya berharap suatu hari saya dapat benar-benar tahu apa yang saya ingin lakukan, apa tujuan hidup saya, dan tentunya menemukan tempat yang pas untuk saya. Sebuah tempat yang dapat membuat saya selalu bersemangat dalam mengerjakan apa yang saya lakukan. Sebuah tempat di mana saya dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat lagi sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Ada sebuah lagu yang sangat sesuai dengan keadaan saya sekarang. A Place In This World - Taylor Swift. Berikut ini adalah sepotong liriknya:

I don't know what I want, so don't ask me
Cause I'm still trying to figure it out
Don't know what's down this road, I'm just walking
Trying to see through the rain coming down
Even though I'm not the only one
Who feels the way I do

I'm alone, on my own, and that's all I know
I'll be strong, I'll be wrong, oh but life goes on
I'm just a girl, trying to find a place in this world


Semoga harapan saya dalam menemukan 'pantai' saya dapat terwujud. Cheers :D

Rabu, 28 April 2010

Review Film: Alangkah Lucunya Negeri Ini

Okay, pertamanya gw nggak minat pas lihat judul film ini "Alangkah Lucunya Negeri Ini." Nggak menjual aja bagi gw. Sampai akhirnya semua temen-temen gw yang udah nonton pada bilang bagus dan recommend ini film banget. Akhirnya gw penasaran deh... Pas banget tadi sore tuh mati lampu, jadi gw dan seorang teman gw memutuskan buat mengungsi ke Jatos dan menonton film ini! Gw bertanya-tanya, emangnya lucunya gimana?

Cerita berawal dari seorang sarjana manajemen bernama Muluk yang melamar pekerjaan ke berbagai tempat tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Perubahan dalam hidupnya berawal ketika ia mengamati seorang pencopet pasar bernama Komet. Ia kemudian berniat untuk me-manage para pencopet yang rata-rata adalah anak kecil dan remaja. Oke, lucu juga nih film..!

Muluk kemudian mengatur uang hasil copet mereka. Sepuluh persennya akan disimpan untuk membuka usaha. Pada awalnya, bocah-bocah pencopet ini menolak. Ya pasti lah yah, cape-cape nyopet, mempertaruhkan nyawa dan harga diri (?) kok diminta gitu aja. Namun, pengurus para copet itu memerintahkan agar bocah-bocah pencopet itu menurut. Dengan terpaksa, nurut juga mereka.
Visi Muluk ini sebenarnya nggak muluk-muluk kayak namanya (naon?!). Dia cuman pengen para pencopet ini berubah dari pencopet menjadi pedagang asongan kemudian membuka toko. Ia mengumpulkan 10% hasil mencopet untuk membuka usaha itu. Tetapi, mengubah mental pencopet ini yang sangat sulit. Udah kebiasaan nyopet, dapet duit banyak, terus tiba-tiba disuruh dagang cape-cape. Kalau boleh minjem istilah dari mata kuliah KLB (Komunikasi Lintas Budaya), culture shock banget gitu loh!!




Mereka kemudian diajarkan membaca, menulis, Pancasila, dan mengaji. Muluk meminta bantuan kedua orang temannya yaitu Syamsul yang adalah Sarjana Pendidikan dan Pipit yang adalah anak dari seorang Pak Haji. Pertama-tama, mereka sangat kaget karena harus mengajar bocah-bocah pencopet, tetapi lama-kelamaan mereka mulai menikmatinya. Sampai akhirnya, ayah Muluk dan Pipit, serta calon mertua Muluk mengetahui apa sebenarnya pekerjaan mereka. Di sinilah konflik dimulai. Ayah Pipit dan Muluk tidak setuju dengan pekerjaan anak-anak mereka. Mereka menganggap uang yang mereka hasilkan adalah uang haram. Muluk dan Pipit pun mulai goyah dan memutuskan berhenti mendidik bocah-bocah itu, begitu juga dengan Syamsul.

Dari sekian banyak bocah-bocah pencopet, 6 di antaranya memutuskan untuk menjadi pedagang asongan. Sedangkan sisanya tetap mencopet. Endingnya agak bikin "nyeeess" karena nggak happy ending. Hehehe. Jadi, digambarkan Komet dan teman-temannya yang memutuskan untuk menjadi pedagang asongan harus berkejar-kejaran dengan SATPOL PP karena dianggap mengganggu lalu lintas. Muluk yang kebetulan saat itu sedang berada di jalan yang sama, membela mereka mati-matian. Dan eng ing eng, Muluk deh yang ditangkep SATPOL PP. Errr errrrrr..... Ending yang sangat "nyeeessss" bagi gw.

Film ini mengandung kritik yang menggelitik kepada pemerintah dan kepada kita semua. Kepada pemerintah yaitu tidak adanya tanggung jawab pemerintah terhadap anak-anak telantar yang seharusnya dilindungi oleh negara sesuai yang tercantum dalam UUD'45. Kepada kita semua yaitu betapa tidak adilnya perlakuan terhadap pencopet ketimbang pejabat yang korupsi. Contohnya maling ayam aja deh yah! (Karena gw suka makan ayam *naon?*). Maling ayam banyak yang dihakimi massa sampai tewas sedangkan para koruptor bisa hidup dengan enak dengan tenang bahkan membeli hukum.

Walaupun penuh kritik, namun film ini dikemas dengan unsur-unsur komedi yang renyah sehingga tidak membosankan dan menarik untuk ditonton. Dan tentunya, sangat menginspirasi! Memang negeri kita ini benar-benar lucu! :)

Jumat, 16 April 2010

Bocah Hiperaktif!

Kemaren-kemaren nemenin Jeng Khara Kessek (http://showmewhatshewrote.blogspot.com/) ke Wisma Lippo buat betulin laptopnya yang rusak, eeeeh, malah nyasar! Yasudahlah kita duduk-duduk dulu dekat bengkel sambil si Khara nanya jalan ama Jeng Sasa . Khara sibuk nelepon, gw sibuk merhatiin bocah-bocah di sana. Ada 3 orang bocah. Satu cowok, 2 lagi cewek. Usia mereka kira-kira 3-4 tahun laah. Wah, negliatin mereka lucu, deh! Lincah banget! Lari ke sana kemari. Nggak bisa diem banget deh pokoknya!! Hihihihi.



Si anak cowok ga bisa diem bangeeeet, lari ke sana sini, manjat sana sini
..



And you know what, si anak cewek ini malah minta diajarin manjat!! *speechless*



Si anak cowok ini semangat banget ngajarinnya, dia kayaknya bangga banget bisa manjat tiang.. Hwahahahaha :D



Eh anak cewe yang satu lagi, sebut saja si centil, malah gangguin si anak cewek yang pertama tadi. Sepertinya dia kesel deh gara2 ditinggal sendiri.. Sedangkan si anak cowok dengan bangganya bertengger di atas. Seneng dia sudah mencapai puncak... :D



Si centil yang sangat sadar kamera.. Hehehehe. (Liat belakangnya, keliatan banget yak si anak cowok itu nggak bisa diem. Sumpah, selama bermenit-menit gw nangkring di situ, nggak ada 1 detik pun dia berhenti bergerak). Ckckckck.

Inilah tulisan iseng yang dibuat orang iseng di saat yang iseng untuk dibaca orang-orang iseng. Tapi jangan isengin penulis iseng yang bikin tulisan iseng ini yah. Anyway, komen iseng tetap diterima kalo emang pengen iseng.. :DD