Hidup adalah perjuangan, kawan... Tak terkecuali dalam hal memakai kawat gigi.
Senin, 20 Agustus 2012
Gigiku.... Perjuanganku.....
Hidup adalah perjuangan, kawan... Tak terkecuali dalam hal memakai kawat gigi.
Jumat, 17 Agustus 2012
Penipu Humoris
Minggu, 01 Januari 2012
Terapi Tertawa

Beberapa waktu yang lalu gue ikut terapi tertawa di Bandung. Gue pergi bareng 4 orang temen gue. Adapun, yang mengadakan kegiatan semacam ini adalah sebuah komunitas bernama Circle of Laughter. Mereka dapat mengadakan kegiatan ini di mana saja sesuai dengan kebutuhan dan akses yang ada. Nah, kemarin itu, gue ikut saat komunitas ini mengadakannya di Café Reading Light di daerah Ciumbuleuit.
Motivasi mengikuti terapi ini adalah untuk tugas Feature Radio gue. Dan memang selama ini gue penasaran seperti apa itu terapi tertawa. Pertama datang, bertemu dengan ibu-ibu yang biasa ikut terapi tertawa ini. Kita ngobrol cukup lama. Ibu ini terlihat seperti ibu-ibu lain pada umumnya. Tidak ada yang aneh.
Kemudian tibalah saatnya terapi ini dimulai. Ternyata tidak ada cara-cara unik yang digunakan selain kreativitas fasilitator dalam membuat orang tertawa. Di situlah tantangan bagi fasilitator terapi tertawa ini. Oya, sebelumnya, ada pemanasan dengan yoga. Si fasilitator kemudian mulai mengeluarkan strateginya untuk membuat orang tertawa atau paling tidak minimal tersenyum.
Pertama, fasilitator menyuruh kami berkenalan dengan yang lain. kami kemudian dipasang-pasangkan. Namun, perkenalan tidak seperti biasanya. Kami tidak boleh berbicara melainkan hanya boleh tertawa. Aneh kan? Wong nggak ada yang lucu disuru ketawa, sambil berjabat tangan dengan orang asing pula. Ih, gimana caranya gue bisa ketawa????? Untungnya, gue dapet pasangan yang cukup lebay ketawanya. Belum apa-apa, udah ketawa duluan. Ngeriiiii sih awalnya. Aneh gila! Eh, lama kelamaan gue jadi ikut ketawa juga karna melihat keanehannya. Awalnya tertawa kecil dan lama-lama jadi terbahak-bahak. Gue bingung, orang-orang di terapi ini tertawa begitu terbahak. Ketawanya lebaaaaaaaayyyy banget deh! Dan taraaaa, karna melihat mereka tertawa untuk hal yang tak lucu itu, gue pun ikut ketawa. Muuuahahahahah…
Nyatanya, banyak dari kita yang sudah dewasa ini sulit sekali untuk tertawa. Harus ada alasan-alasan jelas yang membuat kita tertawa. Padahal, kalau kita tengok anak kecil, mereka dengan mudah bisa tertawa-tawa. Tanpa alasan yang jelas. Itu pulalah yang dijelaskan oleh Hariyadi (fasilitatot terapi tertawa), bahwa menurut penelitian, anak kecil dapat tertawa sebanyak 300 kali sehari sedangkan orang dewasa hanya sekitar 20 kali sehari. Wah, jauh sekali yah perbedaannya. Di terapi tertawa ini juga dihimbau agar kita bisa tertawa meskipun tidak ada penyebabnya. Jadi kuncinya tertawalah dulu baru merasa bahagia. Bukan sebaliknya, bahagia baru tertawa. Belajar juga untuk menertawai kebodohan diri sendiri. Hmmm, hal yang masih sulit gue praktikkan. Yak, gue rasa, kalau mau awet muda, rahasianya adalah banyak-banyak tertawa! Hahahaha.
Rabu, 21 Desember 2011
Puisi Tentang Seseorang

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku,.
Ku lari ke pantai kemudian teriakku
Sepi..sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar..
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring labah-labah belang di tembok keraton putih
Kenapa tidak kau goyangkan saja locengnya biar terdera
Atau aku harus lari kehutan
Belok ke pantai..?
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri
Jumat, 16 Desember 2011
Indra… What? Indra Darwin??!!
Kalau lu punya nyokap yang punya banyak anak kayak nyokap gw (baca: 4 anak), mungkin lu akan merasakan pengalaman di mana nyokap lu itu salah manggil nama.
“Yos, ambilin remote dong!”
“Aku Hannie kali Ma…” (dengan muka SWT)
“Eh iya…”
Ya begitulah kira-kira. Malah pernah nyokap gw nyebutin 4 nama sekaligus… Saking lagi buru-buru. Sering kali gue omelin nyokap gue. Hahahahah. Ya begitulah nyokap gue.
Tapi suatu hari gue tahu perasaan nyokap gue, perasaan di mana lu ngerasa udah nyebut nama orang dengan bener, padahal lu tuh salah. Dan celakanya, semua orang tahu lu salah kecuali elu. Dan kemudian lu sadar sendiri elu tuh salah. Tapi, semuanya udah terlambat.
Ini cerita gue saat gue masih unyu (sekarang juga masih unyu sih) di bangku SMA… Ya, kira-kira tahun 2008. Jadi begini….
Di suatu siang yang membosankan…. Saat itu lagi pelajaran lab bahasa Inggris… Tapi kali ini tidak di lab seperti biasanya melainkan di kelas. Waktu itu Pak Sugi (guru bahasa Inggris gue) lagi nulisin nama-nama tokoh yang nantinya akan jadi bahan story telling kita. Jadi, ada tugas menceritakan seorang tokoh terkenal dalam bahasa Inggris. Pak Sugi menuliskan nama-nama tokoh yang dipilih oleh temen-temen gue. Urutannya itu berdasarkan abjad. Semakin nama lu diawali abjad-abjad awal, semakin lu bisa milih. Dan sayangnya, nama gue adalah Yohannie. Jadilah gue termasuk orang-orang terakhir yang bisa milih dengan enak.
Waktu itu gue ngantuuuuuuukkk banget. High school life gitu lho, bawaannya selalu aja ngantuk (kenapa ya?). Gw nunggu dengan santai. Isadora Duncan, Isaac Newton, dan Leonardo Da Vinci uda ada yang milih. Duh, apa yah? Nah, sampailah ke giliran gue…
“Yohannie mau ambil tokoh siapa?” tanya Pak Sugi.
“Indra Darwin, Pak…” kata gue datar.
“Charles Darwin?” tanya Pak Sugi yang tampak bingung. Kelas hening.
“Indra Darwin, Pak….” Kata gue lagi. Yakin men.
“Charles Darwin?” tanya Pak Sugi lagi.
“Itu lho Pak, Indra Darwin yang pahlawan revolusi….”
Ini Pak Sugi kenapa dibilangin nggak ngerti-ngerti. Kan gue bilang Indra Darwin. Kenapa dia ngotot banget. Eh tunggu…. Indra… What?? Indra Darwin??
Sayang oh sayang, gue telat menyadari kebodohan gue. Kelas langsung ribut. Temen-temen pada ketawa. Aduuuh muka gue merahnya uda kayak kepiting rebus. Gue cuman nutupin muka pake kertas aja sambil ikutan ketawa (begonya, ngapain juga gue ikut ketawa ya???)
Gue nengok ke arah temen gue. Namanya Indra Darwin. Gue nggak tau kenapa kok bisa-bisanya nyebutin nama dia. So pasti, karena dia itu nama belakangnya sama ama Charles sih. Tapi… yaaaa kok bisa-bisanya sih! Aduhhhh…………….. Mama, maafkan aku. Kualat deh gue!